Monday, June 11, 2007

mengeluarkan emosi sebagai tahap awalnya ...

Mengeluarkan emosi adalah hal yang paling mudah...
Tinggal marah-marah, nangis, mukul, nendang, ataupun teriak-teriak...
Apalagi kalo emosi yang didasari oleh konflik kita dengan orang lain...
huuhh.. penginnya nonjok orang itu kali yaaa...

nmaun, kadang ketika sudah mengeluarkan emosi berkali-kali.. tapi kok
masih belum ada perubahan ya..
Kok belum keluar solusinya...
Kenapa bisa begitu yahhh ??

Memang sih, ada sebagian kita yang mengeluarkan emosi ya..
Hanya untuk dikeluarkan saja tanpa perlu mencari solusi..
Karena dengan keluar emosinya.. kita sudah merasa lebih ringan...

Namun bila emosi sudah dikeluarkan ternyata belum terasa ringan juga...
Atau bila sudah terasa ringan, tapi kok masih bersifat sementara..
Kok beberapa waktu lagi kita mbundet lagi dengan pikiran dan masalah kita..

Nah ini dia yang perlu dicermati..

Sebenernya bila kita sudah merasa lebih ringan, kita lebih bisa berpikir jernih dan obyektif..
Kita bisa melihat masalah kita dari luar...
Ibaratnya kita seperti sekelompok ikan di aquarium toples , ketika pikiran kita sudah lebih jernih, kita akan bisa menjadi pihak yang melihat diri kita di dalam toples aquarium tersebut..


Nah kesempatan ini yang perlu dioptimalkan untuk berorientasi pada solusi..
Bukalah hati kita untuk mencari tahu apa yang kita inginkan..
Dengarkan hati bersuara seperti apa..
Analisislah mengapa kita tetep berada dalam siatusi mbundet itu..
Carilah kontribusi masing-masing pihak yang memperkeruh masalah kita..
Lihatlah dari masing-masing kontribusi tersebut.. mana kontribusi kita yang cukup mengambil peran juga...

Mulailah menyelesaikan masalah dengan menyadari apa yang menjadi kontribusi kita...
Mulailah untuk mengambil tindakan untuk mengurangi permasalahan yang bermula dari kontribusi kita..
Bagian yang menjadi kontribusi orang lain atas peliknya masalah kita.. ya itu menjadi tugas orang tersebut..
Karena, tidak semua masalah harus bisa kita atasi sendiri saat itu juga..
Kita hanya perlu adil juiga dengan diri kita sendiri, bahwa pihak lain pun memiliki kontribusi dan harus melakuakn sesuatu untuk mengeluarkan kita dari masalah yang dihadapi..

Yap..
Berorientasi ke solusi... itu yang perlu kita ingat..
Cari kontribusi setiap pihak atas peliknya masalah kita..
Dengarkan hati apa yang diinginkan..
Mulailah dengan mengambil aksi untuk mengurangi kontribusi kita yang bisa membuat memburuk, menjadi kontribusi yang membuat lebih produktif terhadap solusi masalah kita..

Jadi, kembali ke masalah mengeluarkan emosi tadi..
Mengeluarkan emosi adalah tahapan awalnya..
Setelah itu.. supaya lebih produktif.. lihat masalah kita dari jauh..
Fokuskan ke pencarian solusinya..

Monday, June 4, 2007

Depresi Terselubung ?

Depresi terselubung ??

Hmm depresi.. hal yang biasanya sering kita sangkal bahwa kita sedang mengalaminya..
Masa sihh gua yang seceria ini mengalami depresi.. masa aku yang selalu tertawa tergelak-gelak ini bisa-bisanya kena depresi.. G mungkin lah yyaww...

Tak ada yang bisa menolak sihh sebenernya kalo kita itu sebenernya sedang depresi...
si Mr Dep bisa aja datang seenak udelnya sendiri.. tanpa kita sangka.. dan tanpa kita undang..
Tiba-tiba saja kita merasa sesuatu yang datar, hampa, tak berasa, tak bisa tertawa, tak bisa bersedih..

Kalo kita ditanya kawan kita "
1. "kenapa sih lo ? ", kita akan bilang " enggak kok gua g papa, baik2 aja tuh..."
2. "emang kamu lagi sedih yaa ?", kita akan bilang " nggak tuh, ngapain sedih, rugi"
3. "emang kamu lagi bete ya?" kita jawab " nggak tuh biasa aja...
4. emang kamu lagi gembira po ?? , kita jawab " enggak juga tuh" padahal waja kita pada saat itu datar aja..
5. "kok datar aja ?", kita jawabnya " g tau"
6. "cari hiburan yuks ?" , kita jawab " g ahh males, nyape2in aja sih ..."
7. "gua kenalin dengan temen baru yuk, anaknya seru dehh ?", kita jawab " nggak ah, males.., g berminat sama orang baru, buat bete aja"
8. "emang kamu hobinya apa, coba dehh cari suasana baru ?", kita jawab " bosen"
9. "emang temen deket kamu siapa, bisa curhat kan ?", kita jawab "males, jawabannya paling itu2 aja"
10. "trus kamu maunya apa ?" kita jawab " g tau.."

Pokoe dari semua ajakan dan kepedulian, g ada yang direspon...

Padahal, ketika kita sendiri di rumah, inginnya tidurrr aja..., ketika tidur mimpinya yang nggak enak aja, yang sedih-sedih, atau ketika tiba2 menangis, atau tiba-tiba marah yang nggak penting... Ingin sendiri, tapi sebenernya g mau sendiri... inginnya menghindar aja dari pertanyaan2 pribadi.. Ingin ceria, tapi g tau bagaimana caranya membuat diri ceria... Dari sisi waktu, masa ini paling enggak terjadi minimum 2 minggu atau lebih..

Kalau suatu saat kita mengalami situasi seperti ini hmm bisa jadi kita sebenernya sedang mengalami rasa sedih yang berkepanjangan... namun memang tidak kita akui.. atau tidak kita kenali... saat kita mau mengenali.. tampaknya tak terlihat apapun.. tapi saat yang bersamaan, energi, semangat kita untuk melakukan hal baru tampak sirna..

Yap, bisa jadi kita sedang mengalami depresi terselubung.. perasaan yang sedih dalam waktu lama, namun tersembunyi.. terselubungi dengan semua logika dan upaya mempertahankan ego kita yang sedang luka..

Bila kita mengalami situasi ini..? apa ya yang bisa kita lakukan ..?
Hm.. satu hal yang paling penting adalah, coba ulangi pertanyaan diatas.. dan tanyakan sama diri kita sendiri.. apakah jawaban yang sesungguhnya dari pertanyaan dari bermuara pada perasaan sedih, kemarahan yang tak bisa terungkapkan, atau harapan yang tak sesuai dengan kenyataan...?

Bertanya untuk ngecek dengan diri sendir kan lebih aman, g ada yang nilai benar atau salah, karena kuncinya kudu JUJUR dengan diri sendiri...

Bila muara nya semua mengarah ke kesedihan, berarti satu hal yang harus kita lakukan adalah.. mengakui bahwa kita sedang sedih, marah, cemas, dll... akuilah sebagai bagian yang sedang kita rasakan...

Mengakui perasaan terdalam adalah langkah berat, namun itu langkah jitu untuk bisa keluar dari keterselubungan kondisi emosi kita menjadi hal yang riil.. Resikonya adalah.. kita akan menghadapi situasi yang tidak nyaman...

Mengakui kecemasan dan ketakutan terhadap kegagalan adalah sebuah perasaan juga.. yang harus kita akui..

Lalu, mengapa kita perlu menjadikan depresi terselubung ini menjadi riil.. ???

Tidak lain dan tak bukan adalah.. membuka dulu sumbat utama, yaitu dari diri kita sendiri..
Bila sudah riil dan kita akui sebagai proses psikologis yang sedang kita alami.. diri kita akan lebih rileks menerima kenyataan...

Sehingga, ketika ada respon2 yang masuk, kita tidak langsung membuangnya ..kita tidak langsung resisten... Pikiran kita akan lebih rileks.. dan hati kita akan tidak terancam terhadap hal-hal yang bisa melukai ego kita.. dan bisa segera teratasi...

Manfaat selanjutnya, kita bisa terhindar dari tingkat depresi yang lebih berat.. yang bisa mengganggu keseharian produktif kita...

Jadi, cobalah jujur dengan perasaan kita sendiri, supaya bisa mengurangi sumbatan2 emosi dan terhindar dari depresi yang lebih berat...